Nusantara Travel

Trip Gunung Argopuro via Baderan – Bremi

on
15 July 2018

Assalamualaikum,

Kali ini saya mau sharing mengenai perjalanan saya dalam pendakian Gunung Argopuro (3.088mdpl) yang terletak di Situbondo, Jawa Timur. Trek di gunung ini merupakan trek yang disukai para pendaki karena keindahan alam maupun fauna yang mendiami kawasan tersebut sekaligus trek terpanjang di Pulau Jawa. Mau tahu lengkapnya, yuk kita mulai…

 

Mimpi yang jadi kenyataan

Selama ini saya hanya mendengar cerita-cerita dari teman mengenai pendakian Gunung Argopuro. Selain tempatnya yang cukup jauh, waktu pendakiannya pun cukup lama yaitu 5 hari sehingga jarang sekali ada ajakan dari teman untuk trip ke gunung ini. Oleh karena itu, pendakian saya untuk ke Gunung Argopuro cukup jadi mimpi dulu.

Di bulan Februari 2018, saya mendapatkan notifikasi dari grup pejalan terkait adanya pendakian dengan sistem sharecost untuk ke Argopuro via Baderan lintas Bremi. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan dong, langsung saya hubungi Contact Person (CP) nya untuk menanyakan informasi terkait trip ini. Karena waktu dan biayanya yang sudah yakin bisa saya penuhi, maka saya langsung minta untuk dimasukkan ke dalam grup whatsapp Trip Argopuro. Setelah kuota anggota trip ini sudah terpenuhi maka CP mulai memberikan informasi detail terkait trip ini.

 

Berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta

Setelah packing siap, maka saya langsung cabut ke Stasiun Pasar Senen dengan Gojek. Karena selama ini peserta trip belum pernah ketemu satu sama lain, maka cukup awkward ketika pertama kali ketemu dengan peserta lainnya. Tapi karena udah pernah rame di grup, ice breakingnya cepat, gak lama suasana udah cair.

Kami sampai Stasiun Pasar Turi dinihari, dan langsung dijemput oleh Mobil Elf yang sudah kami sewa untuk mengantarkan ke Basecamp Baderan di Situbondo. Gak pake lama di dalam mobil langsung lanjut tidur lagi. Kami sudah menginformasikan ke supirnya untuk berhenti di pasar samping terminal Besuki untuk sarapan sekaligus melengkapi logistik yang masih kurang.

Note: Untuk yang mau beli gas kalengan, maka sebaiknya beli disini karena setelah pasar ini sudah susah mencari toko yang menjual gas kaleng

 

Day 1: Paha Breaker (Basecamp Baderan – Pos Mata Air 1)

Setelah mencapai Basecamp Baderan jam 9 pagi, kami langsung siap-siap untuk packing ulang dan meninggalkan barang-barang yang tidak dipakai dalam pendakian untuk dititipkan di Mobil Elf. Setelah mobil Elf pergi, maka tukang ojek sudah berkumpul untuk mengantarkan kami ke batas makadam (jalan berbatu). Dengan perjalanan ojek (dengan biaya 40k) selama 15 menit tersebut kita sudah menghemat perjalanan selama 2-3 jam jika berjalan kaki.

Perjalanan ojek yang dilakukan oleh tim pertama cukup nyaman yaitu satu motor satu peserta, semakin lama satu motor diisi oleh dua peserta untuk menghemat waktu. Akhirnya saya semotor bertiga dan pada saat itu posisi kaki saya tidak nyaman sehingga paha rasanya sangat pegal. Makanya ketika ojek saya sampai di batas makadam, saya langsung duduk lemas di tanah karena pegal yang sangat.

Note: Minta sama tukang ojeknya untuk 1 orang 1 motor agar nyaman atau minta yang pertama diantarkan

Setelah peserta lengkap, kita berdoa agar pendakian ini lancar lalu baru kita foto-foto. Cuacanya cerah dan treknya didominasi tanah dengan beberapa jalur yang tidak jelas karena di alang-alangnya cukup lebat dan menutupi trek. Tim pertama sudah diberikan pita untuk bisa diikat ke dahan sebagai penanda trek sehingga kami di tim belakang sudah tinggal mengikuti.

Foto di Batas Ojek (Makadam)

Jam 5 sore, kami sampai di pos mata air 1 dan langsung bersiap-siap untuk tugasnya masing-masing. Karena saya membawa tenda, maka saya langsung setup tenda saya, beberapa teman yang tidak memasang tenda, mereka mengambil air di sungai kecil yang berada di seberang pos. Setelah tenda siap, kami melakukan shalat berjamaah.

Shalat Jalan Terus

Malamnya kita makan cukup sederhana, beberapa peserta membawa makanan yang sudah siap saji seperti telur asin, tempe orek dan saya membawa teri kacang. Setelah makan malam selesai, kami sudah siap-siap untuk tidur karena udara yang cukup dingin ditambah badan yang perlu istirahat. Aah nikmatnyaaa….

Day 2: Savana Argopuro (Pos Mata Air 1 – Cikasur)

Pagi harinya, kami sarapan secara sederhana juga. Saya sih cukup sarapan dengan oatmeal+energen juga sudah kenyang. Beberapa teman ada yang menyusul ke Pos Mata Air 1 ini untuk mengikuti trip, sehingga total peserta trip ini berjumlah 19 orang. Setelah packing selesai, kami mulai berjalan sekitar jam 9 pagi dengan tujuan Cikasur.

Foto di Pos Mata Air 1

Note: Masak sekaligus untuk siang agar tidak perlu memasak lagi ketika makan siang

Cuaca hari ini masih cerah dan trek setelah Pos Mata Air 1 masih didominasi oleh tanah bekas jalan motor sehingga menyusahkan perjalanan. Setelah berjalan selama 1.5 jam kami sampai di Pos Mata Air 2. Kami istirahat sebentar untuk minum dan menunggu beberapa teman di belakang. Setelah lengkap maka kami mulai berjalan lagi.

Pemberhentian selanjutnya adalah savana alun-alun kecil. Karena waktunya juga pas untuk makan siang, maka berhenti cukup lama untuk makan. Makanan untuk makan siang sudah kami siapkan berbarengan memasak sarapan sehingga kami tidak perlu mengeluarkan perlengkapan memasak kami. Suasana disini cukup syahdu ditambah semilir angin makin ingin berlama-lama disini.

Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan kembali agar bisa sampai di Savana Alun-Alun Besar diwaktu siang. Rencana kami tidak meleset, kami sampai di savana Alun Alun Besar ini masih siang dan ini adalah waktu yang pas untuk mendokumentasikan keindahan alam Argopuro.

Kami mulai berjalan lagi agar tidak kemalaman waktu sampai di Cikasur. Trek masih didominasi oleh savana yang cukup luas sehingga menambah keindahan tersendiri pendakian Argopuro.

Kami sampai di sungai qolbu pada sore hari. Mau tidak mau kami harus menyeberangi dengan lepas sepatu karena airnya sebetis. Setelah sungai qolbu, akhirnya kami sampai di icon pendakian Argopuro yaitu Cikasur, tanah savana yang dikelilingi oleh pepohonan dari dataran tinggi Yang. Tempat yang indah sekaligus menyedihkan jika mengingat sejarah daerah ini.

Trek Menuju Cikasur

Kami berkemah di icon Cikasur yaitu pohon yang berdiri tinggi ditengah savana dan disekelilingnya terdapat semak yang cukup tinggi yang berguna menahan angin. Udara disini cukup dingin sehingga memaksa kami menggunakan jaket tebal. Setelah memasak dan makan malam, kami langsung tidur dengan jaket berlapis-lapis. Angin dari lembah ini sepertinya membuat tidur kami semakin pulas saja…

Day 3: Trio Kepleset (Cikasur – Rawa Embik)

Pagi ini saya bangun agak siang, selain udaranya masih cukup dingin pagi itu, saya juga terbangun tengah malam karena tidak tahan dingin. Akhirnya saya memasak jahe instan untuk menghangatkan badan baru melanjutkan tidur kembali.

Note: Bawa jaket hangat (bulu angsa) karena Cikasur cukup dingin di waktu kemarau

Setelah bangun, kami bersiap-siap untuk ke savana Cikasur untuk melihat merak liar. Ya, merak adalah hewan yang mendiami kawasan ini. Mereka cukup banyak dan berada di ujung savana dan dari sini kami mendengar banyak suara merak bersahut-sahutan. Karena tidak ada yang membawa lensa tele maka kami cukup ber-selfie-selfie ria saja.

Setelah puas menikmati keindahan alam, kami kembali ke tenda dan menyiapkan sarapan. Seperti biasa, sarapan saya cukup dgn oatmeal+energen. Setelah sarapan selesai, kami berangkat dengan tujuan Rawa Embik dan makan siang di Cisentor.

Trek kali ini sudah tidak ada jalur motor lagi sehingga memudahkan perjalanan walapun banyak pohon-pohon yang tumbang dan menghalangi jalan disini. Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami menemukan turunan ke arah Cisentor. Setelah turunan kami harus menyeberangi sungai  kecil dengan berjalan di bebatuan. Ada tiga teman kami yang terpeleset disini, gak basah banget sih tapi lumayan buat ngedinginin kaki hehehe…

Jalur ke Cisentor Banyak Tanaman Jelatang

Note: Bawa baju dryfit lengan panjang dan gunakan celana panjang untuk menghindari terkena tanaman Jelatang atau Jancukan

Kami makan siang di tanah lapang pinggir kali. Makan dengan ditemani kicauan burung dan gemerisik aliran sungai bersama teman-temen seperjuangan. Priceless…

Setelah makan, kami berjalan lagi ke arah bangunan Cisentor dan terus ke arah Rawa Embik. Dari Cisentor ke Rawa Embik perjalan cukup ditempuh kira-kira 1.5 jam. Kami sampai di Rawa Embik menjelang maghrib. Tempat datar di Rawa Embik cukup kecil, paling hanya muat untuk 7 tenda saja. Enaknya bermalam disini adalah adanya pasokan air yang dekat dari tenda. Setelah pos ini, sudah tidak ada sumber air lagi sampai Danau Taman Hidup. Udara cukup dingin walaupun tidak sedingin di Cikasur. Kami mulai menyiapkan tenda dan bersiap-siap untuk memasak makan malam. Setelah makan kami tidur cepat untuk besok pagi bersiap-siap summit attack.

 

Day 4: Trio Puncak (Rawa Embik – Danau Taman Hidup)

Udara pagi ini bikin mager banget, tapi perut udah gak bisa ditahan, mules. Mau gak mau harus bangun dan cari tempat nongkrong. Alhasil pagi-pagi udah clingak-clinguk cari tempat nongkrong yang aman. Setelah urusan perut selesai, kita bersih-bersih sekaligus sikat gigi. Setelah segar, baru kita sarapan oatmeal+energen lagi. Setelah beberapa teman bangun, kami menyiapkan sarapan dan untuk makan siang nanti. Setelah sarapan selesai kami jalan lagi.

Rawa Embik

Note: Beberapa teman ada yang menginap di Sabana Lonceng setelah Pos Rawa Embik, tetapi disana tidak ada sumber air sehingga harus membawa dari Pos Rawa Embik.

Trek nya menanjak terus hingga pertigaan puncak Gunung Argopuro atau orang-orang menyebut Sabana Lonceng. Di pertigaan ini kami meninggalkan tas kami dan berjalan ke puncak tanpa beban. Puncak pertama yang kami capai adalah puncak Rengganis. Setelah Puncak Rengganis, kami turun lalu lanjut ke Puncak Argopuro dan berjalan ke samping untuk ke Puncak Hyang atau Puncak Arca. Kenapa disebut Puncak Arca karena didekat puncak ini ada arca yang sudah tidak sempurna lagi. Setelah itu kami turun ke arah pertigaan puncak tersebut untuk makan siang.

Note: Bawa jaket windproof karena angin di Sabana Lonceng cukup dingin. Usahakan jam 12 siang sudah jalan ke Danau Taman Hidup untuk menghindari jalan di malam hari.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Karena kami lama di puncak tersebut, kemungkinan kami sampai di Danau Taman Hidup sudah malam. Kami berjalan agak cepat agar tidak terlalu malam di perjalanan. Kami sampai di Pos Cemoro Lima sudah sore dan tetap melanjutkan perjalanan. Ketika menjelang maghrib kami berhenti sebentar untuk menunggu adzan maghrib selesai sekaligus menyiapkan headlamp dan setelah itu kami lanjut berjalan.

Trek di pinggiran bukit setelah Pos Cemoro Limo sangat sempit karena sebelah kanan sudah jurang yang tertutupi oleh semak dan pohon. Setelah berjalan setengah jam, trek menjadi lebih lebar dan memudahkan perjalanan. Walapun perjalanan sudah lebih mudah, tetapi kami berjalan pelan karena cukup banyak akar kecil yang menghalangi trek sehingga beberapa teman tersandung akar tersebut. Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami bertemu dengan pertigaan Danau Taman Hidup.

Kami berkemah di areal lapang dekat bangunan WC yang sudah rusak. Setelah tenda sudah terpasang semua, kami bersiap-siap untuk masak makan malam. Beberapa teman mengambil air di danau dan ternyata airnya tercampur oleh lumut. Untung saja saya membawa filter air sehingga bisa menyaring lumut-lumut tersebut. Pada saat memasak makan malam kami dikagetkan oleh kedatangan musang yang cukup besar. Dia berani untuk mendekati ke arah kemah kami. Setelah itu kami tidur karena sudah cukup larut walaupun cuaca tidak begitu dingin.

Note: Usahakan bawa filter air atau bisa juga menyaring air dengan kain/tissue karena air Danau Taman Hidup berlumut

Day 5: Ketemu Sinyal HP (Danau Taman Hidup – Basecamp Bremi)

Pagi ini bangun karena mendengar suara teman yang baru saja jeblok di lumpur di Danau Taman Hidup. Karena penasaran, saya bangun dan langsung kesana. Danau ini merupakan icon juga dari pendakian ke Gunung Argopuro karena danau ini adalah tempat bermalam terakhir sebelum ke kota. Jaraknya pun dari danau ini ke Basecamp Bremi cukup ditempuh selama 3 jam saja.

Setelah mencapai ke pinggir danau, saya pun takjub akan pemandangan yang indah. Danau dengan dermaga yang beratap ditambah dengan background Gunung Argopuro yang megah. Pagi ini danau begitu cerah tanpa kabut menambah syahdunya kawasan ini.

Setelah menikmati orgasme visual, saya kembali ke tenda karena perut sudah lapar. Masak air panas untuk oatmeal+energen ditemani dengan susu jahe, ahh nikmatnya. Kami berencana untuk memasak semua bahan makan yang masih tersisa dan berjalan menjelang siang. Disini kami makan enak karena tidak ada bahan makanan lagi yang perlu kami simpan-simpan. Mulai dari puding, air jeruk instan, rendang, teri kacang, telur asin mengisi sarapan kami. Setelah kenyang kami berfoto kembali dan bersiap-siap untuk mulai berjalan kembali.

Trek setelah Danau Taman Hidup cukup lebar dan hampir semuanya turunan. Setelah turunan tersebut kita akan memasuki hutan karet dengan trek yang landai. Setelah keluar hutan, baru kita bertemu dengan ladang penduduk. Karena sinyal disini cukup bagus maka kita mulai menyalakan HP kita kembali sembari menunggu teman-teman yang lain. Setelah peserta sudah lengkap, kami baru mulai berjalan menuju Basecamp Bremi dengan trek makadam.

Setelah berjalan 15 menit kami ketemu dengan gerbang Danau Taman Hidup dan dari situ hingga Basecamp Bermi cukup ditempuh selama 15 menit juga. Di Basecamp ini akhirnya saya bisa mandi setelah beberapa hari kemarin tidak mandi. Di dekat Basecamp ini juga ada masjid sehingga memudahkan kami jika ingin shalat berjamaah di masjid.

Esok hari kami sudah dijemput oleh Elf sewaan kami untuk diantarkan ke Stasiun Pasar Turi di Surabaya dan Alhamdulillah semua peserta kembali dengan selamat. Berikut video mengenai perjalanan saya di Trip ini, semoga bisa menginspirasi teman-teman semua. Assalamu’alaikum, tabik.

Photos credit to Bang Ito, Bang Kiting dan semuanya yang tidak saya sebutkan satu persatu

GPS Tracklog HERE

Credit to someone in internet

TAGS
68 Comments
  1. Reply

    Putri Reno

    16 July 2018

    Sepertinya Argopuro bagi saya masih sebatas Mimpi. Belum ada panggilan alam untuk kesana.

    Membaca cerita Mas Galuh seperti ikut dalam perjalan tersebut.

    Makan siang di tanah lapang pinggir kali. Makan dengan ditemani kicauan burung dan gemerisik aliran sungai. SEPERTI SURGA DUNIA YA. Nikmat sekali.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Iya mbak, bagus banget pemandangannya. Semoga dimudahkan juga ke Gunung Argopuro ya mbak.
      Thank sudah mampir

  2. Reply

    Antin Aprianti

    16 July 2018

    Foto-fotonya mana kak? aku yang nggak pernah naik gunung ini selalu penasaran sama foto-foto di gunung.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Maaf Mbak Antin, baru aja saya upload.
      Btw thanks sudah mampir ya

  3. Reply

    Maria Widjaja

    16 July 2018

    Selamat yah, Mas Galuh. Akhirnya mimpi itu terealisasikan juga. Semoga saya juga bisa menikmati keindahan Argopuro suatu hari nanti.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Semoga dimudahkan yaa ke Gunung Argopuronya dan terima kasih sudah mampir

  4. Reply

    Kartini

    16 July 2018

    seru banget ya kak kalo naik gunung itu. gunung yang pernah aku taikin baru papandayan lagi. jadi penasaran untuk gunung-gunung yang lainnya. terima kasih kak, untuk cerita serunya 🙂

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Thank you sudah mampir mbak Kartini. Bisa dicoba Gunung Prau, trek nya juga mudah dan pemandangannya ajib juga

  5. Reply

    febi

    16 July 2018

    good writing, good pics & good video 😀

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Thanks sudah mampir, kapan kita se grup lagi naik gunungnya?

  6. Reply

    Kurnia

    16 July 2018

    Trek gunung Argoupuro cukup panjang dan melelahkan juga yaa 5harian, itu lumayan juga ambil cutinya. Tapi sepanjang perjalanan deg-degan bacanya pas masuk ke lumpur hidup dan ketemu musang

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Iya cutinya habis gegara trip ini, tapi terbayar kok sama pengalamannya.
      Thanks sudah mampir

  7. Reply

    Dayu Anggoro

    17 July 2018

    Ah gila, pengen banget gw ke sini cuma belom ada waktu cuti dan kesempatan buat nikmatin suasan Danau Taman Hidupnya.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Semoga dimudahkan mas Dayu
      Btw thanks sudah mampir ya

  8. Reply

    Yunita Tresnawati

    17 July 2018

    Argopuro, salah satu impian zaman dulu masih aktif naik gunung, sekarang dah males hehehhe. Foto2nya mantap, jangan dibikin kecil atuh A Galuh, sekalian yang besar jadi kita bisa menikmati tulisan deskriptifnya Aa sekaligus melihat keindahannya. Salut ih sama pendaki yang ga meninggalkan sholat. Semangat nulis, ditunggu cerita lainnya yang keren

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Siap terima kasih mbak, will do
      Btw gambarnya itu pake lightbox kok mbak, kl di klik dia “membesar” 😛

  9. Reply

    Taumy

    17 July 2018

    Jadi rindu muncak. Fotonya bagus2. Memang sebaiknya pakai jaket windproof jika ke gunung.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Yup, dingin banget anginnya, sepoi sepoi nusuk tulang, apalagi saya yg kurus kaya gini…
      Btw thanks sudah mampir ya

  10. Reply

    INA

    17 July 2018

    Salutt ka Shalat tetap jalan terus walau sedang wisata apalagi saat mendaki gunung seperti ini

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Yup, tugas manusia itu cuma disuruh menyembah Allah kok, aktivitas sisanya ya iseng menunggu waktu shalat
      Btw thanks sudah mampir ya

  11. Reply

    Evi

    17 July 2018

    Bawa jaket bulu Angsa, bawa jaket Windproft dan bawa saringan air.. Hehe..
    Ribet banget yaa..
    Tapi memang harus membawa peralatan yang lengkap supaya bisa bertahan di alam..
    Terimakasih Mas Galuh sudah berbagi cerita pendakian ke Argopuro.. Seruu..

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Kalau mau nyaman iya harus bawa peralatan tsb, tapi temen ada yg gak bawa sih tapi nyaman aja tuh 😛
      Btw thanks sudah mampir ya

  12. Reply

    Cha

    17 July 2018

    Asik euy pengen banget bisa naik gunung, tapi blom berani ngukur nafas nya gak nyampe hikss, rencana nya setelah argopuro kemana lagi nih mas?

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Rencana mau ke Gunung Semeru nih Cha
      Untuk naik gunungnya bisa dicoba yg mudah dulu kaya Papandayan atau Prau
      Btw thanks sudah mampir

  13. Reply

    Lelyna

    17 July 2018

    KEREN!!!
    Temen saya jg memimpikan bisa mendaki di gunung argopuro ini. Oh ternyata inilah faktanya!!

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Yup this is it…
      Btw thanks sudah mampir

  14. Reply

    Kalena Efris

    17 July 2018

    Itu naik ojek habis biaya berapa bang? Dan kalo ngojek sampe cikasur habis berapa? Ehh sekarang ojek Argopuro lagi ada pro kontra yaaa?

    Btw tulisan Bang Galuh lengkapppp bangett. Udah dari dulu pengeenn banget ke Argopuro, apalagi banyak yang ngomporin dan yaaaa emang baguss sihh. Tapi waktunya itu loh #ehhcurhat 😂

    • Reply

      Galuh Sukmana

      17 July 2018

      Ojek sampai batas makadam kena 40k, sampe cikasur 200-250k kl gak salah
      Ojek Argopuro blom pernah denger sih
      Btw thanks sudah mampir

  15. Reply

    airin

    17 July 2018

    widihhh.. seru banget, selalu indah pengalaman dan pemandangan di gunung, cuma setelahnya n pas perjalannannya aja yang melelahkan. hehe

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Nyesel cuma pas naiknya doang kok kak, kl udah diatas sama pas turun dijamin nagih
      Btw thanks sudah mampir ya

  16. Reply

    lenifey

    18 July 2018

    Wah baru tau kalo kita harus jaga2 bawa saringan buat air ya kak. Pengetahuan baru nih buat aku. Iya ya kak kalo musim panas tuh malam nya digunung pasti lebih dingin.. ampe ada esnya gitu ya.. btw tulisannya lengkap sekali..

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Iya, saya selalu bawa saringan air, incase kehausan trus ketemu sumber air yg gak bersih
      Btw thanks sudah mampir ya

  17. Reply

    Firdaus Soeroto

    18 July 2018

    Seru banget sih ini. Baca postingan ini kerasa banget serunya Bang Galuh pas daki. Keren euy!

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Iya bang Daus, seru banget anak2 BPJ kl naek gunung, seneng susah ditanggung bersama
      Btw thanks sudah mampir ya

  18. Reply

    Lisa Fransisca

    18 July 2018

    Argopurooo! Sudah lama ingin ke sini tapi ya belum terealisasikan juga, hahaha. Terima kasih tulisannya, seru ya berinteraksi dengan Danau Taman Hidup dan berbagai biota di sana, terutama burung merak. Cerita yang menarik!

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Perlu dicoba sih Gunung Argopuro, gak nyesel sama pemandangan yg berbeda2 tiap hari…
      Btw thanks sudah mampir ya

  19. Reply

    Inez

    18 July 2018

    seriusan itu saking dinginnya sampai ada es di sendal
    baru tau asli
    norak bett gw wkwkwk
    gw pikir indo negara tropis jd panas sama ujan aja ( kec puncak pegunungan papua yg ada es )

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Iya, pas paginya kita juga kaget gegara ada es, pantesan dingin banget, mana tidur pake tenda sendirian lagi kan makin syeedih #kodekeras 🙂
      Btw thanks sudah mampir ya

  20. Reply

    Rama Murtaba

    18 July 2018

    Suka salut sama yg bisa naik gunung dan kuat sama hawa dinginnya disana. 😂😂😂
    Padahal pengen banget liat lautan awan dari atas gunung. Kereeeen banget pasti.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Iya pas udah diatas liat lautan awan emang kereen, pas lagi nanjaknya aja yg suka nyesel tapi nagih
      Btw thanks sudah mampir ya

  21. Reply

    Achmadi Anggi

    18 July 2018

    Wah keren sekali bisa ke Argopuro, trek nya yang berhari-hari pasti akan selalu terkenang.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Iya, untungnya ketemu temen2 yg gak doyan drama jadi serunya maksimal
      Btw thanks sudah mampir ya

  22. Reply

    Diah Sally M

    18 July 2018

    Waah finally yaa bang, keren banget. Anyway itu beneran ada es turun disana? Macam salju gitu yaa ?

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Gak sampe salju si Mbak Sal, somehow embunnya aja yg pada beku
      Btw thanks sudah mampir

  23. Reply

    rifki

    18 July 2018

    Terimakasih Telah Menerima Saya menjadi teman Se rombongan . Saya sangat bersyukur atas segala keramahan , dan ,kesabaran .
    .
    terimakasih argopuro
    terimkasih teman” jakarta
    .
    semoga sehat selalu
    #rifki

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Majirobeeeh, gimana kabarnya? Gw rencana mau ke semeru abis idul adha, lo kemana abis Gunung Argopuro?

  24. Reply

    tuty prihartiny

    18 July 2018

    Argopuro ..hemm saya agendakan terus, malah nanjaknya ke gunung lain. Tapi tulisan kakak telah ‘mengganggu’ saya untuk segera ke sana nih. terimakasih untuk referensi sekeren ini. BTW, salut dna hormat saya untuk kalian yang tetap ingat sholat di ketinggian.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Semoga dimudahkan ke Gunung Argopuro secepatnya ya
      Btw thanks sudah mampir

  25. Reply

    Mela

    18 July 2018

    Hmm… Suka envy sama orang2 yang berhasil ke Argopuro, tapi sampai sekarang merasa belum mampu kesana, kyaknya panjang banget perjalanannya hahahaa..
    Cuma seru banget baca cerita Kaka.. Di foto itu banyak yang aku kenal, asik-asik anaknya..

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Yup, makanya perjalanannya seru bgt dan no drama
      Btw thanks sudah mampir

  26. Reply

    Hayati

    18 July 2018

    Ceritanya seru, fotonya bagus, dan muncak ke gunung argopuro tanpa melupakan sholat pula. Terbaik deh 👍

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Terima kasih komennya

  27. Reply

    Henry Irawan

    18 July 2018

    Suatu saat pengen ke argopuro melihat secara langsung

    • Reply

      Galuh Sukmana

      18 July 2018

      Semoga dimudahkan ya, tempatnya syahdu kok
      Btw thanks sudah mampir

  28. Reply

    titi

    18 July 2018

    Wah ketemu es di gunung, kok keren sih. Aku iri, fix.

    • Reply

      Galuh Sukmana

      19 July 2018

      Kerenan es di Jepang lah
      Btw thanks sudah mampir

  29. Reply

    titi

    18 July 2018

    Es nya keren sekali kakak, aku fix iri loh

    • Reply

      Galuh Sukmana

      19 July 2018

      Kerenan es di jepang lah
      Btw thanks sudah mampir

  30. Reply

    Ari Widi

    18 July 2018

    Nanjak lagi dengan keseruan-keseruan yang bikin iri. sukses terus ya Galuh..

    • Reply

      Galuh Sukmana

      19 July 2018

      Terima kasih, doa yg sama buat kamu ya

  31. Reply

    Agnes

    18 July 2018

    semoga suatu hari bisa ke Argopuro, btw ka 5 hari itu start perjalanan dari basecamp Argopuro sampai kembali pulang ke basecamp lagi?

    • Reply

      Galuh Sukmana

      19 July 2018

      Yup, butuh 5 hari tapi lintas ya alias gak balik ke basecamp yg awal tapi ke basecamp yg lain
      Btw thanks sudah mampir

  32. Reply

    Ari Widi

    19 July 2018

    Trip aling menyenangkan adalah nanjak gunung..titik. gitu saja..makasih ya membuat menggebu ingin nanjak lagi

    • Reply

      Galuh Sukmana

      19 July 2018

      Semoga dimudahkan ya naik gunungnya
      Btw thanks sudah mampir

  33. Reply

    elsalova

    19 July 2018

    argh aku mauuuuuuu, naik gunung jugaaa. huh

    • Reply

      Galuh Sukmana

      28 July 2018

      Ayuuk mbak dijadwalkan
      btw thanks sudah mampir

  34. Reply

    ajiza desi purnamasari

    22 July 2018

    waw berawal dari mimpi menjadi kenyataan yaa mas ?
    keren keren euy…

    • Reply

      Galuh Sukmana

      28 July 2018

      Iya gak nyangka loh,
      btw thanks sudah mampir

LEAVE A COMMENT

Galuh Sukmana
Banyuwangi

Seorang wirausaha yang doyan berkeliaran di luar ruangan, berkendara dengan vespanya dan menangkap momen-momen yang unik dan indah dengan kamera untuk bisa dibagikan kepada yang lain.